Thursday, October 19, 2006

PR Event Manager di Yayasan Sedaun


Sebagai PR Event Manager di Yayasan Sedaun. Ini salah satu kegiatan Yayasan yang menyumbang 6000 pohon Jati di Semarang pada acara peringatan hari pangan se-dunia pada tahun 2003

PR Event Manager


Sebagai PR Event Manager pada kampanye pemilihan presiden 2004.


PR Event Manager

Sebagai PR Event Manager pada kampanye pemilihan presiden 2004 yang lalu.



Feel Good Award


Sebagai finalis Look Good Feel Good Award yang dilaksanakan di Grand melia hotel. Finalis terdiri atas 10 orang, setelah menyingkirkan sekitar 300 pendaftar.

Monday, August 14, 2006

Buku Media Monitoring & Analisa 1-15 September 2005

Transaksi Via ATM Naik 20%

Bandung : PT Artajasa, penyedia jaringan transaksi elektronik terpadu di Indonesia, memproyeksikan volume transaksi melalui anjungan tunai mandiri (ATM) Bersama menjelang Lebaran tahun ini meningkat sekitar 20%.

Arya Damar, Dirut PT Artajasa, mengungkapkan volume transaksi pada ATM bersama saat ini sekitar 1,5 juta hingga 1,9 juta per bulan menjelang Lebaran karena meningkatnya konsumsi masyarakat.

“Untuk mengantispasi kenaikan volume transaksi tersebut, kami telah berkoordinasi dengan semua bank supaya dananya tersedia (sesuai dengan kebutuhan penarikan uang tunai),” ujarnya di sela roadshow campus to campus di Bandung, kemarin.

Arya menyatakan perkembangan volume transaksi melalui ATM Bersama setiap tahunnya selalu meningkat 100%. Hal ini disebabkan karena system keamanan yang terjamin dengan tingkat kebocoran 0%.

Namun dia mengaku, masih ada kegagalan transaksi sekitar 20% yang lebih disebabkan factor kesalahan nasabah dalam bertransaksi, seperti saldo yang tidak mencukupi dan salah memasukkan nomor PIN. (Binis/k14).

Portofolio

BSM Layani Transfer dana TKI Malaysia

Jakarta, Bank Syariah Mandiri menjajaki penggarapan transfer dana TKI dari Malaysia melalui kerja sama jaringan ATM regional yang diikuti antara Malaysia dan Indonesia.

Malaysian Electronic Payment System Sdn Bhd (MEPS) dengan PT Artajasa Pembayaran Elektronis (Artajasa) melakukan kerja sama link fasilitas ATM antara yang melibatkan 9.700 unit ATM di kedua negara.

BSM menjadi salah satu bank yang ikut memanfaatkan kerjasama jaringan itu sehingga bisa melakukan akses di kedua negara.

Direktur BSM Hanawijaya mengatakan potensi lalu lintas dana Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Malaysia cukup besar sehingga cukup propektif untuk digarap kalau memang memungkinkan untuk dimasuki.

Sejauh ini, tuturnya. Secara teknis BSM memang punya kemungkinan ke arah itu dengan memanfaatkan kerja sama jaringan ATM untuk jasa transfer dana semacam itu.

‘Menurut tim teknologi kami memang bisa ke arah itu, Tapi saya belum tahu betul teknisnya itu. Sekarang tim kami lagi mempelajarinya,”Katanya kepada Bisnis.

Menurut dia, kajian itu tengah dilakukan oleh divisi pengembangan produk dan service quality management yang dipimpin Agus Syabarrudin.

Dia mengharapkan kajian itu secepatnya bisa dituntaskan sehingga kerjasama jaringan ATM dengan Malaysia bisa dimanfaatkan secara maksimal untuk kepentingan produktivitas jasa pelayanan perusahaan.

Soal target waktunya, Hana tidak berani menyebutkan karena belum bisa diperkirakan kapan bisa direalisasikan.

Transaksi Nasabah Muamalat Terbesar

Bandung – transaksi nasabah Bank Muamalat Indonesia (BMI) di fasilitas ATM Bersama tergolong terbesar dengan frekuensi 60 ribu – 70 ribu perbulan. Sedangkan frekuensi nasabah bank lain tergolong minim.

Corparte Development Head Artajasa, Aries Barkah, menyatakan bank syariah yang menggunakan fasilitas ATM Bersama baru tiga. Semuanya dari kategori bank umum syariah yakni BMI, Bank Syariah Mandiri, dan Bank Syariah Mega Indonesia,”Untuk unit usaha syariah belum banyak yang bergabung,”Kata Aries.

Aries mengatakan, bank yang memiliki unit-unit syariah di Indonesia belum banyak yang bergabung dengan ATM bersama, karena khawtir bersatu dengan bank Konvensional. Padahal, menurut dia, penggunaan ATM Bersama tidak akan mempengaruhi system syariah.

Di Malaysia, kata dia, umumnya bank Islam sudah menggunakan ATM bersama itu padahal bekerjasama juga dengan bank konvensional. Karena jika membentuk layanan sendiri, investasinya mahal.

Anggota ATM Bersama saat ini ada 54 bank. Setiap tahunnya, terjadi peningkatan transaksi sebesar 100 persen. Tahun 2005 ini, transaksi mencapai 1.5-1,6 juta. Pada saat lebaran nanti diperkirakan akan naik lagi sebesar 20 persen.

Transaksi Melalui ATM Bersama Terus Meningkat

Nilai transaksi perbankan melalui ATM Bersama saat ini semakin meningkat. Bahkan setiap bulannya mencapai 1.6 juta transaksi dan ini menunjukkan keberadaan ATM Bersama semakin diterima masyarakat. Pada awalnya memang masih kurang diterima karena adanya kekuatiran akan kegagalan transaksi bila menggunakan ATM Bersama.

Hal tersebut diungkapkan Direktur Utama PT Artajasa. Arya Damar kepada wartawan sesaat setelah menjadi pembicara dalam acara “Bedah Teknologi Perbankan” di Aula Fakultas Universitas Katolik Parahyangan Bandung, Rabu (7/9).

Namun, tambahnya, sesuai dengan perkembangan teknologi kegunaan ATM yang tidak hanya untuk menarik uang dan melihat saldo, berkembang untuk transaksi perbankan lainnya. Seperti membayar tagihan rekening listrik, telepon maupun air.

RI – Malaysia Kerja Sama 9.700 ATM

Oleh : Irsad Bisnis Indonesia

Jakarta : Malaysia Electronik Payment System Sdn Bhd (MEPS) dengan PT Artajasa Pembayaran Elektronis (Artajasa) melakukan kerja sama link fasilitas ATM antara Malaysia dan Indonesia yang melibatkan 9.700 unit ATM di kedua negara tersebut.

Ada lebih dari 700.000 nasabah bank di Malaysia dan dua juta dari Indonesia yang regular melakukan perjalanan lintas kedua nagar itu yang akan berpotensi memanfaatkan lauanan link anjungan tunai mandiri tersebut.

Pertama yang menikmati kerja sama itu nasabah May-bank, Bank Syariah Mandiri dan Nilai Inti Sari Penyimpanan Bank. MEPS memperkirakan sampai akhir 2005, lebih dari tujuh bank local. Malaysia diperkirakan akan menawarkan layanan link regional tersebut kepada nasabahnya.

Dalam layanan pemanfaatan ATM Bersama itu dimungkinkan nasabah dari Indonesia bisa menarik mata uang ringgit di Malaysia dan sebaliknya nasabah Malaysia bisa menarik rupiah di Indonesia.

Dalam kerjasama ini ada 5.200 unit ATM dalam kelolaan Artajasa dan 4.500 unit dari jaringan MEPS yang bisa digunakan oleh kedua belah pihak.

Direktur Pelaksana MEPS Dato’ Mohd Hata Robani mengatakan kerjasama itu menjadi tonggak sejarah bagi kedua belah pihak sebagai industri keuangan di kedua negara.

“Kerja sama ini menjadi langkah besar untuk menunjukkan visi MEPS ke depan yang akan memberikan layanan transaksi secara menyeluruh bagi nasabah di manapun mereka berada,”katanya dalam siaran persnya kemarin.

Buku Media Monitoring & Analisa

1-31 Agustus 2005

Penyelamat Devisa Negara

Artajasa bertekad menjadikan layanan perbankan yang efisien. Tak hanya mengembangkan di tanah air, tapi juga di kawasan Asia. Hasil putra banga.

Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Kiasan itu sepertinya sangat cocok disematkan kepada para Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Memang tragis sering kali tak bisa dipisahkan dari mereka. Mendapat perlakukan tak senonoh dari majikan, itu hal biasa. Namun, yang tragis, perlakuan buruk pun mereka dapatkan manakala pulang ke tanah air.

Sudah jadi rahasia umum, para TKI kita kerap kali diperas ketika sampai dibandara Soekarno – Hatta. Mereka hanya bisa gigit jari ketika uang hasil jerih payah mereka digondol penipu dan penodong di bandara. Itu lantaran, umumnya mereka membawa upahnya dalam bentuk tunai. Padahal, kejadian itu mestinya tidak terjadi, jika para TKI itu memanfaatkan teknologi ATM Bersama, layanan elektronis yang dirintis oleh PT Artajasa Pembayaran Elektronis (Artajasa).

Bekerja sama dengan Malaysian Electronic Payment (MEPS-Malaysia). Artajasa meluncurkan fitur yang dinamai interkoneksi regional, awal tahun ini. Melalui fitur ini, memungkinkan nasabah dari bank yang terintegrasi dengan ATM Bersama dari Indonesia dapat menarik uang tunai di lebih 4.500 terminal ATM anggota Bancard di Malaysia. Begitu sebaiknya Nasabah pun tak perlu lagi membawa cash dalam jumlah besar. Fasilitas ini bisa dimanfaatkan wisatawan dari kedua negara untuk menarik uang tunai. Turis dari Indonesia, misalnya tak perlu repot menukar uang ringgit dari Tanah Air untuk bermacam keperluan di Malaysia. Cukup mencari terminal ATM berlogo ATM Bersama, lembar ringgit pun langsung bisa digenggam. Ke depan, dengan fitur transfer antar bank melalui bank ATM maka para TKI pun tak perlu bersusah payah untuk membawa cash dari penghasilannya ke tanah air.

Fitur ini merupakan salah satu wujud komitmen Artajasa untuk senantiasa menjadi penyedia layanan elektronis terdepan tanah air. Menurut Arya Damar. Direktur Utama PT Artajasa. Ini merupakan langkah awal dalam mengembangkan jaringan dan infrastruktur di kawasan Asia. Menghasilkan layanan yang memberi kemudahan dan kenyamanan bagi masyarakat, merupakan semangat yang senantiasa melekat pada segenap karyawan PT Artajasa. “Dengan kerja keras.

Besar Kecil Meraup Untung

Kesuksesan PT Artajasa Pembayaran Elektronis (Artajasa) tak bisa dilepaskan dari peran Arya Damar, sang Direktur Utama. Melalui tangan dinginnnyalah, Artajasa menjadi salah satu perusahaan penyedia layanan transaksi elektronis terdepan saat ini. Produknya yang berupa layanan ATM Bersama menjadi Shared ATM Network local terbesar di Indonesia.

Artajasa pun senantiasa melahirkan berbagai terobosan seperti online settlement, transfer beda bank, hingga fitur interkoneksi regional. Semenjak kepemimpinannya. Bahkan saat ini Arya sedang mengembangkan fitur Payment Bersama. Sebagai perusahaan non-bank, Artajasa selayaknya menjadi lembaga kepercayaan nasabah.

Arya mengawali karier profesionalnya di PT Indosat selepas lulus dari Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung tahun 1986. Setelah dua tahun di Indosat ia lantas mendapat tugas di PT Aplikanusa Lintasarta anak perusahaan Indosat, hingga memegang posisi General Manager. Tatkala Artajasa berdiri tahun 2000 ia langsung dipercaya sebagai Direktur Utama.

Untuk mengungkap strategi dan bagaimana langkah Artajasa dalam menjalankan bisnisnya, berikut petikan wawancara dengan penikmat musik jazz dan klasik, yang mengaku masih menyimpan sejumlah ambisi untuk membesarkan Artajasa.

Dalam segi bisnis, apa sebenarnya yang dilakukan Artajasa ?

Intinya kita bercita-cita memberikan efisiensi kepada mitra dan kemudahan bagi masyarakat dalam melakukan transaksi secara elektronis. Jadi kita coba membuat proses itu menjadi mudah. Kita mulai dari perbankan dengan program ATM Bersama.

Dulu ketika ATM hanya bisa digunakan oleh bank penerbit yang bersangkutan muncul pertanyaan kenapa tidak digabung saja. Karena ATM bukan lagi masalah marketing tools. Bank-bank kecil yang jumlah ATM-nya sedikit tentu sulit untuk mengejar. Akhirnya kita bersama-sama jadi satu, yang tidak punya ATM bisa menggunakan ATM yang lain. Sementara yang ATM-nya banyak akan mendapat keuntungan. Akhirnya tercipta efisiensi.

Selain itu, apa lagi ?

Efisiensi yang kedua adalah untuk beragam pembayaran (payment). Saat ini nasabah juga butuh ATM untuk membayar segala tagihan. Nah, dengan begitu nasabah sebuah sebuah bank bisa bayar tagihan apapun di mana saja dan bisa melalui ATM apa saja. Masing-masing bank tidak perlu berhubungan dengan billing provider, multifinance, pajak dan segala macam. Artajasalah yang menyelesaikan semuanya. Jadi efisiensi yang dicapai. Sementara kemudahan bagi nasabah ialah bisa membayar semua tagihan.

Sejauh mana pihak perbankan menyambut produk-produk Artajasa?

Saat ini kita baru punya komunitas 52 bank anggota ATM Bersama dengan jumlah ATM mencapai lebih dari 6500. Mulai tahun lalu, kita kembangkan tak hanya untuk cek saldo dan tarik tunai saja, tapi juga bisa untuk transfer. Tadinya ATM hanya buat tunai saja. Kita lembaga pertama di Indonesia, mungkin di dunia pun kita nomor dua setelah Afrika Selatan, melakukan transfer antar bank melalui ATM.

Mungkin kalau diluar negeri tidak terlalu penting, sebab disana cukup datang ke bank bila ingin transfer. Di sini, karena sudah banyak bank yang dapat melakukan transfer antar bank, kami pun membuat inovasi model transfer. Biasanya kita transfer antar sesama rekening satu bank. Sekarang kami menciptakan system transfer bank A dengan bank B. Bahkan bisa there partied.

Apa dasarnya sehingga Artajasa tertarik melakukan terobosan ini ?

Yang namanya transfer itu dilakukan kapan saja, bisa tengah malam, bahkan hari libur pada saat bank tutup. Nah, orang tua yang anaknya di luar kota dan memiliki rekening bank yang berbeda misalnya, bisa melakukan transfer dan detik itu juga diterima, tidak harus menunggu.

Terobosan lain?

Kita telah melakukan kerjasama dengan Malaysia Electronik Payment System Malaysia dengan meluncurkan fitur interkoneksi regional. Saat ini baru saling mengambil uang saja, belum bisa transfer antar ATM. Kita juga ada rencana untuk kami pasti bisa,”Kata Arya.

Mencapai tujuan tadi, memang banyak kendala yang mesti dihadapi. Toh, hal itu tak pernah menyurutkan semangat Artajasa untuk menganggapnya. Hal itu terbukti dengan peran penting Artajasa dalam menghasilkan berbagai layanan guna membantu masyarakat melakukan transaksi eletronik yang lebih efisien dan simple. Jenis layanan baru pun terus muncul.

Salah satunya, ya, keberadaan layanan ATM Bersama tadi. Kehadirannya memberi suatu lompatan cukup penting bagi industri perbankan. Keberadaan ATM Bersama ini, tidak saja menguntungkan bank-bank kecil dengan kepemilikan terminal ATM terbatas, tapi juga memberi nilai tambah pada bank papan menengah dan atas yang berkecukupan dalam soal jumlah terminal ATM.

Alih-alih membangun jaringan sendiri yang sangat mahal, integrasi bank-bank ke dalam jaringan ATM Bersama, makin menyejajarkan citranya dengan bank-bank besar sebagai bank yang berjaringan luas dan memiliki teknologi advanced. “Dan manfaat efisiensinya pun sangat terasa,” Ujar Arya.

Tapi cukup dengan bergabung ke dalam jaringan ATM Bersama, bank tak perlu lagi jor-joran berinvestasi di ATM. Dengan bergabung sebagai anggota ATM Bersama, satu bank akan secara otomatis seakan memiliki 6.500 terminal dari sekitar 12.000 ATM yang hadir di seluruh tanah air.

Nasabah pun diuntungkan. Hanya dengan memiliki salah satu kartu ATM dari salah dari lima puluh dua bank anggota ATM Bersama bisa langsung melakukan transaksi tarik tunai, cek saldo dan ganti PIN, diseluruh jaringan ATM berlogo ATM Bersama. Artajasa bak penyelamat, lantaran sadar tidak sadar sebagian nasabah pemilik ATM Bersama dalam kesehariannya memang terbiasa dibantu dalam transaksi perbankan.

Bayangkan saja, ada banyak yang harus dikorbankan, seperti waktu yang terbuang untuk bolak-balik, sekedar mencari terminal ATM yang sama dengan kartu ATM dari bank penerbit yang dimilikinya. Hanya dengan memiliki rekening dari bank penerbit yang tergabung dalam jaringan ATM Bersama, ia pun tak repot lagi.

Keberhasilan pengembangan jaringan ATM Bersama ini telah membuktikan perlunya sebuah efisiensi. Setiap bank pasti berupaya agar biaya investasi dalam pengadaan jaringan bisa ditekan seminimal mungkin, guna menghasilkan margin keuntungan yan lebih besar. Jika bank ingin menambah terminal ATM sendiri, penempatannya tak perlu dilokasi yang sudah tersedia terminal ATM Bersama.

Dengan menghadirkan layanan Interbank Fund Transfer atau yang lebih dikenal dengan transfer beda bank, nasabah bank anggota dimungkinkan untuk mentransfer ke rekening bank lain melalui terminal ATM sesama anggota ATM Bersama secara real time-online.

Bahkan transfer dapat dilakukan secara there partied. “Kartu ATM Bank A. misalnya digunakan di terminal Bank B untuk mentransfer dana ke Bak C, “ujar Arya. Saat ini 33 dari anggota ATM Bersama telah memanfaatkan fitur ini.

Sejatinya, ketika layanan ATM Bersama diluncurkan 10 April, 15 tahun silam oleh – ketika itu – PT Lintasarta, jumlah anggota tak sebanyak saat ini. Namun, setelah binis shared ATM ini diserahkan dari lintasarta pada Artajasa tahun 2002, jumlah anggota bank penerbit makin bertambah. Peningkatan jumlah ini berdampak langsung pada jumlah dan frekuensi transaksi yang naik tajam. “Saat ini rata-rata jumlah transaksinya 1,2 juta hingga 13 juta transaksi per bulan.”Kata Arya bangga.

Prestasi itu cukup yang menggembirakan. Maklum, tahun-tahun sebelumnya, transaksi rata-rata per bulan hanya bisa tembus angka 100.000. Dengan komitmen selalu meningkatkan pelayanan, selain ATM Bersama. Artajasa juga menyediakan online payment bagi industri penerbit tagihan (billing provider) seperti jasa telekomunikasi, seluler, listrik, juga penerbit kartu kredit.

System tersebut dikembangkan dengan puluhan institusi bank dan non-bank yang berfungsi sebagai pengumpul pembayaran tagihan. Bahkan, dalam soal frekuensi, transaksi online payment mengungguli transaksu ATM. Lewat Artajasa pula, seluruh terminal ATM milik bank-bank pemerintah yang tergabung dalam Himpunan Bank-bank Negara (HIMBARA), dihubungkan dalam satu jaringan dengan nama LINK.

Yang membanggakan, dengan dukungan system, infrastruktur dan sumber daya manusia professional yang semuanya putra bangsa. Artajasa selalu berupaya meningkatkan kepercayaan pasar. Caranya, dengan terus mengembangkan produk dan layanan terdepan yang memberi kemudahan pada para pelaku bisnis partner, sebutan khusus Artajasa untuk klien dan pelanggannya.

Meskipun jasa layanan yang dihasilkan sudah dinikmati jutaan orang, nama Artajasa justru tak banyak dikenal. Toh, bagi Arya, hal ini bukanlah soal.”Biarlah masyarakat lebih mengenal ATM Bersama disbanding Artajasanya,” kata lulusan Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung. (ITB) ini dengan senyum lebar.

Payment bersama antara 20-an anggota online payment di luar anggota ATM Bersama, di semua anggota ATM Bersama bisa melakukan pembayaran apapun, meski bank itu tdiak punya perjanjian dengan billing provider.

Mengapa tidak semua bank tertarik bergabung dengan ATM Bersama?

Berdasarkan survey terakhir, Cuma 60 bank yang punya dan berencana punya ATM. Enam puluh sisanya mungkin corporate dan bank asing. Jadi menurut hitungan, target kita sudah hampir 90%. Kita sendiri sudah tidak terlalu mengejar jumlah banknya. Target kami saat ini adalah meningkatkan kemudahan transaksi. Mungkin masyarakat tidak perlu tahu Artajasa, cukup tahun ATM Bersama. Memang, ATM Bersama sendiri diakui masih belum memasyarakat. Karena usaha ini baru tumbuh. Suatu saat kita pasti bisa.

Seberapa efisien bagi bank jika ikut bergabung dengan ATM Bersama ?

Sederhananya begini. Sebuah bank butuh sekitar 120 – 150 juta per tahun untuk biaya operasional satu ATM. Jadi andai bank punya 20 ATM, dia harus mengeluarkan biaya operasional hampir Rp 3 milyar lebih. Itu baru 20 ATM. Belum lagi biaya satu perangkat ATM yang harganya mencapai US$ 15.000 hingga US$ 20.000. Nah, bank kecil yang hanya punya 10 ATM misalnya, bisa memiliki 6500 ATM dengan bergabung di ATM Bersama. Untuk bank-bank yang memiliki banyak ATM, ketika dipakai oleh pemilik kartu ATM bank lain, mereka dapat fee. Yang tadinya ATM hanya cost, sekarang justru menghasilkan profit.

Adakah kendala yang dihadapi?

Saya melihat tidak ada kendala sampai saat ini. Karena selama ini yang kita berikan kepada mereka adalah pelayanan dan kemudahan untuk nasabah bank-bank anggota.

Semua produk Artajasa dibuat oleh putra bangsa. Ada upaya khusus untuk mempersiapkannya?

Segala yang kita kerjakan terbukti bisa berhasil setelah dijalankan. Dan masih banyak yang harus kita lakukan ke depan. Yakinlah, bagaimanapun juga kalau ada kemauan pasti bisa. Potensi SDM kita tidak kalah, hanya masalah kemauan saja.

Apa target ke depannya?

Saya ingin Artajasa ada ditengah. Kita juga ingin merambah sampai ke outlet-outlet tempat orang beli karcis dan tiket. Nah, kita jadi electronic channel untuk segala macam provider. Nanti, orang cukup datang di satu tempat untuk membayar semua tagihannya.

Diluar negeri, seberapa banyak perusahaan seperti Artajasa ?

Cukup banyak. Bahkan di Malaysia dan Singapura, mereka sampai mengurusi tiket masuk jalan tol.

Peran Artajasa membuat efisien dalam konteks nasional. Bagaimana sikap Pemerintah ?

Buat saya bukan soal pengakuan terhadap yang sudah kita lakukan, tetapi hasil

apa yang sudah kita berikan kepada industri terkait, khususnya financial institution.

Dorong transaksi

Menurut Direktur Utama PT Artajasa pembayaran Elektronis. Arya Damar, pihaknya siap melakukan interkoneksi dengan jaringan lain jika regulator memang mewajibkan aturan tersebut.

Artajasa merupakan perusahaan switching jaringan ATM Bersama yang beranggotakan sekitar 50 bank.

Secara teknis, Arya mengungkapkan proses interoperabilitas antara jaringan ATM tidak terlalu sulit dilaksanakan.

Dia mendukung rencana tersebut karena pada prinsipnya interoperabilitas antara sejumlah jaringan akan mendorong utilisasi perangkat dan system ATM, termasuk mendorong transaksi melalui perangkat ATM.

“Kita bisa belajar dari industri telepon seluluer, saat penyelenggaraan layanan SMS dibuka interkoneksinya, dengan cepat terjadi lonjakan frekuensi trafik SMS.”

BI Minta Operator Switching ATM Berintegrasi

Oleh : Tri D. Pamenan

Bisnis Indonesia

Jakarta: Bank Indonesia meminta penyelenggara jaringan (switching) ATM antarbank di Tanah Air diminta untuk meningkatkan interoperabilitas sebagai bagian dari implementasi cetak biru system pembayaran nasional.

Saat ini setidaknya terdapat empat perusahaan switching ATM di Indonesia yang menyelenggarakan empat jaringan yang berbeda, yaitu ATM Bersama, Prima, Alto dan Link.

Menurut Direktur Sistem Pembayaran dan Akunting Bank Indonesia Mohammad Ishak, selama ini keberadaan perusahaan switching jaringan ATM memang cukup membantu perbankan dalam menyediakan infrastruktur ATM.

“Dengan adanya perusahaan switching, bank tidak perlu lagi melakukan investasi sendiri-sendiri untuk pengadaan perangkat ATM,”Ujar dia.

Akan tetapi, BI mengharapkan agar penyediaan jaringan ATM antar-bank itu tidak berhenti sampai di situ.

Bank sentral mengharapkan agar interoperabilitas mesin ATM dapat diperluas hingga ke level perusahaan switching. Jika hal itu bisa segera direalisasikan maka nasabah pemegang kartu ATM akan dapat menggunakan seluruh mesin ATM yang tergabung ke dalam jaringan antar-bank.

Dia mengungkapkan jumlah kartu ATM dan kartu debet yang diterbitkan di Indonesia belakangan mengalami pertumbuhan siginifikan, baik dari sisi transaksi, jumlah kartu, maupun mesin ATM.

Kenaikan tersebut dinilainya tidak mengherankan karena minat masyarakat untuk menggunakan electronic banking memang semakin luas, terutama kemudahan dan efisiensi yang ditawarkan.

Bagi BI, system transaksi on-line real time yang diselenggarakan pada jaringan ATM antar-bank merupakan komplementer terhadap system yang disiapkan bank sentral, yaitu Sistem Kliring Nasional dan RTGS (real time gross settlement).

Menurut data yang diperoleh Bisnis, total mesin ATM yang beroperasi di Indonesia hingga September mencapai 14,712 unit.

Ishak mengungkapkan perusahaan switching jaringan ATM antar-bank pada prinsipnya sudah menyetujui rencana interoperbilitas antar jaringan. Perusahaan-perusahaan itu tinggal duduk bersama untuk membicarakan pembagian keuntungan dalam penyelenggaraan interkoneksi jaringan ATM tersebut.

Komitmen Layanan Bank BPD DIY; Kembangkan Teknologi Sistem Tersentral

Yogya (KR) – Teknologi Informasi (TI) menjadi salah satu komitmen Bank BPD DIY untuk terus dikembangkan, baik untuk mendukung pola kerja maupun memberikan kemudahan kepada nasabah. Sejak tahun 1991, seluruh jaringan pelayanan Bank BPD telah berhubungan secara real time on line dan saat ini masyarakat serta nasabah menuntut lebih dari sekadar on line.”Masyarakat menuntut agar memperoleh lebih banyak kemudahan dari pemanfaatan teknologi untuk perbankan,” kata Direktur Pemasaran Bank BPD DIY, Suicha Prihasti SE MM, kepada KR.

Ditambahkan, pada tahun 2004, bank makin menyempurnakan teknologi system informasi dengan menyusun core banking system yang tersentralisasi. Sehingga, pada tahun 2005 aplikasi ini telah dapat diterapkan pada operasional bank, dan dapat meningkatkan kemudahan dan kenyamanan nasabah dalam melakukan transaksi. Selain itu, pada tahun 2004 lalu, bank Bank BPD juga telah menambah 5 jaringan ATM baru, yang ditempatkan dilingkungan perkantoran pemerintah.

Disadari bahwa TI memegang peranan penting dalam industri perbankan. Bahkan, banyak memanfaatkan TI sebagai salah satu keunggulan strategis.

Dengan kesadaran tersebut, lanjut Suicha, maka bank BPD DIY selalu melakukan penyempurnaan teknologi yang dimiliki. Setelah berhasil mengembangkan layanan ATM tahun 2003, maka tahun 2004, dikembangkan teknologi yang memungkinkan nasabah untuk melakukan transfer ke bank lain yang bergabung dalam jaringan ATM Bersama.

Dalam tahun 2004 lalu, BPD DIY menyempurnakan teknologi yang dimiliki menunjukkan teknologi dengan system tersentral. Program kerja diawali sejak tahun 2004, dan selesai tahun 2005, untuk dapat diimplementasikan sepenuhnya tahun 2006.

Pengembangan-pengembangan tersebut dimaksudkan untuk makin meningkatkan kualitas pelayanan kepada nasabah dan pada sisi yang lain diharapkan dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam penggunaan sumber daya bank.

Penggadaan ATM bisa lewat pihak ketiga

Oleh : Tri D. Pameran Bisnis Indonesia

Jakarta, PT Artajasa pembayaran elektronis menawarkan pola pengadaan mesin ATM kepada pihak ketiga. Dengan pola tersebut, investasi pembelian mesin ATM tidak lagi menjadi tanggung jawab bank, tetapi akan ditanggung oleh pihak ketiga.

Presiden Direktur PT Artajasa Pembayaran Elektronis Arya Damar mengatakan pola pengadaan mesin ATM yang baru itu diharapkan menjadi solusi bagi bank dalam melakukan ekspansi.

Artajasa merupakan ‘cucu’ perusahaan PT Indosat Tbk yang bergerak dalam penyelenggaran jaringan ATM Bersama dan solusi teknologi perbankan.

“Dengan upaya ini kami berharap bank tidak perlu lagi melakukan investasi secara besar-besaran untuk membeli sendiri mesin ATM,”Ujar dia.

Dalam menyelenggarakan layanan tersebut, Arya mengatakan Artajasa akan bekerja sama dengan pihak ketiga seperti restoran, pusat perbelanjaan, atau tempat public lain.

Dengan kata lain, mesin ATM itu akan dimiliki oleh restoran yang memasang mesin tersebut. Dia mengharapkan strategi itu akan dapat mempercepat penyebaran mesin ATM di Tanah Air.

Menurut Arya, konsep itu akan mendorong efisiensi bank karena tidak perlu lagi mengluarkan biaya operasional dan perawatan. Efisiensi juga bisa dirasakan oleh pihak ketiga dan masyarakat umum.

Pola pengadaan mesin ATM oleh pihak ketiga sudah lazim digunakan di sebagian negara seperti Amerika Serikat dan Australia.

Di AS, bank tidak perlu lagi mengisi uang di ATM, melainkan merchant yang melakukannya. Di Australia, pengadaan uang di ATM dilakukan oleh suatu institusi yang bertugas menangani seluruh perawatan mesin tersebut. Dengan pola itu, maka bank dapat berkonsentrasi penuh terhadap fungsi core-banking.

Arya memahami kalau saat ini perbankan mulai meningkatkan efisiensi dalam kegiatan efisiensi dalam kegiatan operasional, termasuk melakukan investasi perangkat teknologi secara lebih hati-hati.

Efisiensi itu a.l dilakukan dengan cara melakukan belanja TI secara bersamaan (share) atau melalui pola outsourching, termasuk untuk pengadaan mesin ATM.

Tren beanja mesin ATM oleh perbankan di Indonesia pada tahun ini mengalami penurunan hingga dua kali lipat di banding tahun lalu.

Kondisi itu terjadi seiring dengan kebijakan perbankan di dalam negeri yang memperketat likuiditas akibat meningkatkan tekanan terhadap marjin.

Menurut Arya, pada tahun ini pembelian mesin ATM oleh perbankan di dalam negeri hanya berkisar 2.000 unit hingga 3.000 unit sementara tahun lalu mencapai 5.000 unit.

Pertumbuhan Mencapai 40, 9% Per Tahu

Transaksi ATM Bersama Diproyeksi Naik 60%

Jakarta melalui anjungan tunai mandiri (ATM) Bersama tahun 2006 diproyeksi naik 60% dari 15 juta transaksi menjadi 25 juta transaksi. Ini akan disertai oleh peningkatkan layanan online payment secara siginifikan, baik dari sisi transaksi maupun jumlah mitra kerja sama.

Dalam keterangannya di Jakarta belum lama ini, Direktur Utama PT Artajasa, Arya Damar mengatakan, peningkatkan itu didasarkan atas berbagai potensi. Misalnya, perusahaan telekomunikasi di Indonesia dengan target pelanggan sekira 70 juta tahun 2006, merupakan mitra potensial bagi bank dalam layanan online payment.

Menurutnya, jenis layanan yang dapat diintegrasikan dalam fitur online payment makin luas. Misalnya, dalam jasa telekomunikasi, pembayaran tagihan public seperti listrik, air, cicilan kredit, premi asuransi bahkan e-tiketing.

Disebutkan, rata-rata pertumbuhan transaksi ATM Bersama sejak tahun 1996 mencapai 40,9% per tahun. Tahun 2005 saja, total nilai transaksi ATM sejak tahun 1996 mencapai 40,9% per tahun. Tahun 2005 saja, total nilai transaksi ATM Rp. 541.83 triliun, “Transaksi penarikan tunai lewat jaringan ATM Bersama hanya Rp 3.85 triliun. Ini potensi yang besar, “ujarnya.

“Dilihat dari jumlah transaksi di ATM Bersama sebanyak 1,8 juta transaksi per bulan, dengan rata-rata frekuensi pemakaian 3-4 kali per kartu perbulan, tentunya angka kartu aktifnya sangat kecil dibandingkan jumlah card holder nasional yang kini 30 juta.”jelasnya.

Ia menyatakan, potensi pendapatan yang bisa diraup bank cukup menggiurkan. Fee bank acquiring dari tahun 2004 naik 54,77% dari Rp. 17.78 miliar menjadi Rp. 27.52 miliar tahun 2005. Contoh salah satu bank anggota ATM Bersama, dengan biaya bulanan ke Artajasa (Perusahaan penyedia peralatan ATM bersama) Rp 20 juta, in return dapat memperoleh acquiring sekira Rp 600 juta per bulan.

Disebutkan, pemanfaatan layanan transaksi elektronik oleh dunia perbankan terus meningkat. Pemanfaatan ini memberikan kontribusi terhadap value added bagi nasabah dan fee based income bagi bank.

Sunday, August 13, 2006

Transaksi BMI di ATM Bersama Cukup Besar

Jakarta – Transaksi pengguna kartu ATM Bank Muamalat Indonesia di jaringan ATM bersama berada di posisi terbesar ketiga. Tingginya volume transaksi, kata Direktur Utama Artajasa, penyedia layanan ATM bersama, disokong penjualan Kartu Shar-e.
“Sejak BMI gencar mempromosikan kartu Shar-e volume transaksi nasabah BMI di ATM bersama melonjak tajam, “katanya di Jakarta, kemarin (1/11). Ia menilai penjualan Kartu Shar-e cukup sukses.
ATM bersama yang dikelola oleh PT Artajasa menjangkau 54 dari 65 bank yang memiliki jaringan ATM. Mengenai total transaksi nasabah BMI, Arya mengaku tidak dapat menunjukkan angkanya. Juga bank mana yang transaksinya menempati urutan satu dan dua. Dengan peningkatkan transaksi, menurut Arya, fee yang harus dibayar BMI pun ikut naik.
Saat ini jumlah ATM BMI memang masih terbatas sehingga kerja sama dengan jaringan ATM Bersama yang mempunyai 6.630 mesin ATM lebih memudahkan layanan kepada nasabah. BMI bekerjasama dengan jaringan ATM BCA yang mempunyai lebih dari tiga ribu mesin ATM.
Arya mengungkap jaringan ATM Bersama diminati bank syariah. Tahun ini, dua bank umum syariah lain yaitu Bank Syariah Mandiri dan Bank Syariah Mega ikut bergabung. Begitu juga dengan sebagian besar unit usaha syariah (UUS) seperti Permata, Danamon, BNI, BRI, BTN, Niaga, Bukopin, dan IFI.
Menurut Arya, Artajasa menawarkan bank yang punya UUS untuk memakai jaringan ATM Bersama, “Kami juga ingin menawarkan agar BPD dan unit syariahnya bergabung supaya kartu ATM mereka bisa digunakan secara nasional, “Empat bank daerah yang punya UUS, Bank DKI, Sumut, Riau dan Bank DKI, dan Bank Jabar sudah lebih dulu.
Arya mengatakan bagi bank yang nasabah dan mesin ATMnya cukup banyak, jaringan ATM bersama bermanfaat untuk meningkatkan fee based income. Itu karena mesin ATM kini bisa digunakan untuk membayar bermacam tagihan.
“Total fee based income bank dari ATM Bersama baru Rp 30 miliar perbulan. Padahal potensinya bisa Rp 200-300 miliar per bulan.” Kata Arya. Penyebabnya, selain minimnya sosialisasi masyarakat juga belum terbiasa menggunakan mesin ATM selain mengambil uang tunai.
Ia juga mengkritik bank yang mengenakan biaya terlalu tinggi untuk transaksi ATM. Fakta di lapangan, menunjukkan bank yang biaya transaksi ATM-nya lebih murah transaksinya lebih tinggi.

Buku Media Monitoring & Analisa

Bank Tingkatkan Pendapatan Komisi
Jakarta, Kompas – kondisi makroekonomi yang buruk, terutama tingginya tingkat inflasi dan suku bunga, akan memaksa perbankan untuk menaikkan pendapatan di luar bunga. Oleh karena itu, bank berupaya meningkatkan pendapatan dari komisi atas pelayanan jasa keuangan (fee base income).
Ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Iman Sugema mengungkapkan hal itu dalam diskusi “Menjawab Tantangan Perbankan 2006 melalui Strategi Non Konvensional” yang diselenggarakan perusahaan penyedia layanan transaksi elektronis, Artajasa, Kamis (1/12) di Jakarta.
Inflasi yang tinggi, yang pada akhir tahun ini diperkirakan mencapai di atas 17 persen (setahun) memaksa Bank Indonesia (BI) untuk terus menaikkan tingkat suku bunga moneter. BI Rate maupun Sertifikat Bank Indonesia (SBI).
Langkah tersebut diperlukan untuk menjaga selisih tingkat suku bunga riil supaya tetap menarik bagi investasi sehingga stabilitas nilai tukar rupiah dapat terjaga. Jika selisih suku bunga riil menipis apalagi negatif, pemodal akan mengalihkan dananya dari aset rupiah ke aset dollar AS yang memberikan tingkat pengembalian lebih baik.
Tingkat suku bunga yang terus menanjak akan berdampak negative terhadap pendapatan perbankan. “Tingkat suku bunga SBI yang tinggi akan memaksa bank menaikkan suku bunga deposito, yang berarti peningkatan biaya dana”, kata Iman.
Pada sisi pendapatan konvensional bank yang berasal dari pendapatan bunga bersih akan semakin menipis. Suku bunga SBI yang mengatrol tingkat suku bunga deposito juga akan bermuara pada tingginya suku bunga kredit. Dalam kesempatan itu. Direktur Bank Buana Pardi Kendy memperkirakan tingkat suku bunga kredit tahun depan akan mencapai kisaran 20 persen.
Lebih jauh Iman menjelaskan, tingginya tingkat suku bunga kredit akan berdampak meningkatkan kredit bermasalah, yang berarti juga penurunan pendapatan bank. Selain itu, suku bunga kredit yang tinggi akan mengakibatkan perlambatan ekspansi kredit. Di satu sisi, bank meningkatkan kehati-hatian sehingga lebih konservatif dalam menyalurkan kredit. Di sisi lain, pengusaha akan menunda realisasi investasi karena suku bunga kredit yang tinggi akan menaikkan biaya produksi, termasuk tuntutan kenaikan gaji karyawan.
Dalam situasi ini, mau tidak mau perbankan harus melirik pada pendapatan konvensional. Komisi atas jasa pelayanan keuangan.”kata Iman.
Menurut Iman, dari 10 bank terbesar di Indonesia saat ini, hanya tiga bank memiliki pendapatan tinggi dari komisi atas jasa pelayanan keuangan, yaitu BCA, BII, dan Bank Lippo.
Direktur Utama Artajasa Arya Damar mengungkapkan, dari seluruh nasabah perbankan saat ini, baru 3 persen yang memanfaatkan mesin anjungan tunai mandiri (ATM) untuk transaksi pembayaran. Padahal, tahun 2006 perusahaan telekomunikasi menargetkan 70 juta pelanggan di Indonesia.
“Ini merupakan mitra potensial perbankan dalam layanan pembayaran secara online. Salah satu bank anggota ATM bersama, dengan biaya bulanan ke Artajasa Rp 20 juta, dapat memperoleh komisi transaksi sekitar Rp 600 juta per bulan.”Katanya. (ANV).

Tuesday, August 01, 2006

Penanam Jati dari “Balik Semak”


Buat Devie Rahmawati, Balsem bukan lah obat gosok penghilang gatal maupun rasa sakit yang selama ini banyak dikenal orang. Tetapi Balsem bagi perempuan kelahiran 25 Maret 1982 itu merupakan kumpulan penjaja makanan yang terletak di balik semak (Balsem) di belakang kampus FISIP Depok Jawa Barat. “Balsem adalah bagian dari hidup saya selama hamper lima tahun saya kuliah,” kenang Devie ketika ditemui di sebuah pusat perbelanjaan di Blok M Jakarta Selatan, akhir Mei 2006.

Bagi Devie-begitu ia biasa dipanggil-Balsem adalah tempatnya berkumpul bersama teman – teman kuliah. “Mulai dari ngerjain tugas kuliah, bolos, hingga mengerjakan kerjaan yang tidak tuntas dikerjakannya di kantor,” kenangnya. Mengerjakan kerjaan yang belum tuntas dikerjakan di kantor kerap kali dilakukan di balsem amat mungkin dilakukan mengingat perempuan berbintang aries ini, telah memulai kerasnya dunia kerja ketika masih menggeluti dunia kuliah.

Mulai dari menjadi PR & Event Manager untuk Media Center di Komisi Pemilihan Umum, lalu menjadi seorang Junior Consultant di Ida Sudoyo dan Associates hingga menjadi Corporate Cummunications Specialist di sebuah perusahaan IT pengelola ATM bersama, PT Artajasa Pembayaran Elektornis. Semua itu digelutinya sambil kuliah.

Berbekal pengalaman itu pulalah, seusai menuntaskan kuliahnya di Jurusan Komunikasi FISIP UI, Devie kembali mempertahankan Balsem sebagai tempatnya mencari inspirasi. Balsem kini bakal menjadi tempatnya mencari solusi atas peliknya tugas bekerja sebagai Public Relation FISIP UI.

Bagi Devie dalam bekerja di tempatnya sekarang ia harus memiliki kekuatan fisik untuk mencapai tujuan akhir, kemampuan menyelesaikan masalah agar tidak gagal, serta ketenangan dalam proses pengambilan keputusana yang penuh resiko. “Ketiga hal itu bila kita miliki dengan sempurna akan membuat kita begitu cinta pada pekerjaannya. Dan itu semua telah saya coba untuk miliki,” lanjutnya sambil tersenyum.

Ketiga filosofi itu ternyata dipraktekkan dalam merintis karirnya hingga saat ini. Sebagai seorang manager, perempuan yang suka menonton film itu menggunakan perinsip H2C dalam memimpin tim yang dimilikinya.” H2C yang saya kenal ialah Happiness, Helping Others, dan Choices,” terangnya mantap. Buat finalis pemilihan abang none Jakarta Kepulauan Seribu 2002-2003 itu, H2C begitu melekat dalam aktifitasnya bekerja.

“Ketiga kata ini menjadi seperti agama buat saya ketika bekerja. Saya berusaha mensyiarkan ketiganya kepada setiap orang yang saya kenal khususnya kepada setiap orang yang bekerjasama dengan saya seperti staf atau partner saya dalam bekerja,” ungkapnya.

Dengan happiness, Devie ingin setiap pekerjaan atau tanggung jawab yang diemban dapat dijalani dengan suka cita. “Bila sebuah pekerjaan sudah cukup merepotkan buat apa lagi kita harus menambah beban dengan bermuka masam,” ujar finalis Prolene Look Good and Feel Good Award 2003 seraya tersenyum.

Konsep Helping Others selalu diterapkan dalam komunitas kerjanya bila ada salah satu staff yang membutuhkan bantuan. “Saya atau staff yang lainnya akan sesegera mungkin mendampingi,” tambahnya. Sedangkan Choises, menjadi pil terakhir yang biasa dicekoki kepada ajjarannya. “Kita selalu punya pilihan dalam semua hal. Pilihan untuk datang tepat waktu atau tidak. Pilihan untuk mendapatkan bonus atau tidak. Pilihan untuk memiliki relasi banyak atau tidak. Pilihan untuk tetap bekerja atau tidak,” paparnya.

Masih menurut Devie, ketika seseorang sadar memiliki pilihan untuk melakukan dan menjadi yang terbaik, maka orang itu akan berlomba memilihmelakukan sesuatu yang bisa mendatangkan kebaikan bagi mereka. Untuk itu konsep H2C baginya diterapkan dengan sungguh – sungguh.

Si pencinta buku, musik dan jalan – jalan ini ternyata juga aktif di LSM Lingkunagn Hidup (SEDAUN). “Belum banyakn sih yang sudah aku lakukan,” akunya. Namun Devie sudah menanam sebanyak 7000 Pohon Jati di berbagai kota seperti Semarang, Jakarta, Bandung dan kota – kota lainnya. “Aku sangat concern dengan upaya menyebarkan virus menanam ke semua lapisan masyarakat,” tutup Devie.

Human Capital * Nomor 27* Juni 2006

Jangan Jadi Kacamata Kuda


Devie Rahmawati atau lebih familiar disapa mbak Devie, yang kerap mengontak wartawan dalam setiap event yang diadakan oleh PT Artajasa Elektronis, belakangan sering kepergok bolak – balik ke Bank Indonesia (BI). Apa terkait dengan lemahnya rupiah? Tidak.

Sebagai Corporate Cummunication, dara cantik kelahiran Jakarta 25 Maret 1982 ini memiliki tugas khusus terkait dengan dipercayanya PT Artajasa Pembayaran Elektronis dalam mengembangkan Sistem Kliring Nasional (SKN). “Oh ya kebetulan Artajasa dipercaya BI untuk ngembangin Sistem Kliring Nasional. Karena di Bank Indonesia nanti ada lauching resmi SKN, yang dihadiri Deputi Gubenur,” jelasnya sebelum launcing SKN tersebut.

Menjadi Public Relation (PR) bagi maniak baca dan traveling ini benar – benar dijiwainya. Itu terlihat bagaimana gaya dan sikapnya dalam membina hubungan dengan insan pers, sehingga setiap perusahaannya menyelenggarakan even, pasti dibanjiri oleh awak pers.

Wanita lajang yang kenyang dengan pengalaman organisasi kehumasan ini menjelaskan bahwa, menjadi seorang PR berarti harus mampu menjadi SOLUSI. “Mungkin bagi banyak kalangan di negeri ini, keberadaan PR hanya dibutuhkan ketika sebuah KRISIS muncul. PR tidak lebih hanya sebagai TAMENG” tuturnya.

Menjadi solusi banginya, tidak berarti harus ada problem. Solusi yang dimaksud ialah, dalam keseluruhan proses bisnis atau usaha, PR pun akan hadir dengan beragam ide yang konstruktif baik ke dalam maupun keluar. Jadi seorang PR tidak boleh menjadi kacamata kuda, yang hanya menguasai bidangnya, tapi juga mampu memberikan konstribusi bagi perusahaan dan masyarakat luas dalam banyak aspek. “Itu yang membuat seorang PR sejati akan tampil sebagai sosok yang dinamis dan smart,” jelasnya lagi.

Pengalaman sebagai PR manager pada Dialog kandidat Presiden dan Wakil Presiden 2004 yang lalu, merupakan salah satu tugas yang luar biasa bagi seorang Devie. “Saat itu saya harus berdialog dengan banyak orang, dari semua kalangan, mulai tukang sapu. Paspampres, para pendemo sampai Presiden (Megawati saat itu) dan calon presiden (SBY). Berhubungan langsung dengan dengan mereka, sangat memperkaya pengalaman emosi dan kompentesi saya sebagai seorang PR,” kenangnya.

Business Review Edisi 07 * TH IV * Oktober 2005

Entertainment, Trend Work of the Year

Di zaman yang serba instan ini, banyak anak muda yang ramai – ramai menekuni pekerjaan dibidang entertainment media elektronik, terutama televisi. Sebab, pekerjaan itu menjanjikan banyak uangdan ketenaran. Itulah pendapat Devie Rahmawati, manajer humas FISIP UI, tentang tren kerja tahun ini.

Menurut Anda, pekerjaan apa sin yang lagi digandrungi orang tahun ini?

Kebanyakan orang, terutama anak muda sekarang, sedang terpukau dengan media elektronik. Banyak orang mengincar pekerjaan yang bisa muncul di televisi, terutama yang ada hubungannya dengan program entertainment. Misalnya, penyanyi, pemain sinetron, presenter, pelawak, dan profesi – profesi lainnya yang ada hubungannya dengan dunia hiburan televisi. Kenapa? Sebab, di saat kondisi perekonomian tak menentu seperti sekarang, hiburan murah menjadi kebutuhan utama. Karena itu, semua mata sekarang tertuju pada televisi sebagai media hiburan murah yang bisa dinikmati oleh siapa saja.

Kenapa pekerjaan itu digandrungi?

Alasannya sederhana saja, zaman lagi susah, semua orang ingin cari duit cepat, banyal, plus bisa terkenal. Lihat saja, setiap ada audisi menjadi penyanyi, bintang sinetron, model, pelawak, dan sebagainya, itu selalu dibanjiri orang. Terutama anak muda, mereka rela meninggalkan seklah hanya demi mengejar pekerjaan menjadi penyanyi, artis sinetron, presenter dan sebagainya yang terkenal di layar kaca. Ada pergeseran besar ketika fungsi selebriti sekarang lebih banyak dipakai ketimbang pejabat. Coba perhatkan, dulu acara peresmian – peresmian gedung atau peluncuan produk banyak melibatkan pejabat. Sekarang EO lebih senang mengundang sosok selebriti karena dinilai lebih memiliki nilai jual. Lalu, siapa yang tidak ingin menjadi selebriti? Uang banyak, pekerjaan telihat menyenangkan, dan terkenal dimana – mana.

Tapi, banyak orang lupa kalaupekerjaan didunia hiburan itu rata – rata tidak bertahan lama. Yang tidak kerja keras dan tahu akan kebutuhan pasar akan segera tergeser dengan yang baru. Jadi, menurut saya, masa depan pekerjaan di bidang tersebut bisa dibilang tidak cerah. Terutama untuk jangka panjang.

Lalu, pekerjaan dibidang apa yang menurut Anda punya prospek cerah?

Di era pasar bebas seperti sekarang, dunia menjadi tanpa batas. Apa kuncinya agar bisa survive di era persaingan pasar bebas? Menurut saya, orang harus menguasai IT. Paling tidak mengerti internet dan komputer. Sebab, IT-lah yang bisa menembus dunia tanpa batas.

Tanpa pengetahuan di bidang IT, orang akan tertinggal dan kalah bersaing.

Pekerjaan di bidang IT, masa depannya akan sangat cerah. Pekerjaan di bidang IT akan semakin banyak dibuka dan orang yang punya keahlian di bidang tersebut akan makin dicari. Oleh perusahaan apapun, baik perusahaan IT sendiri maupun perusahaan yang bergerak dibidang lainnya.

Thursday, July 27, 2006

Punya Dua Asuransi Pendidikan


Devie Rahmawati

Kepala Humas Fakultas Ilmu Sosial

& Ilmu Politik Universitas Indonesia


BISA DIBILANG WANITA yang satu ini adalah ibu yang sangat memperhatikan biaya pendidikan anak. Bahkan, sebelum sang bayi ada di kandungan, ia sudah mengambil produk ansuransi pendidikan anak. Maklum, wanita yang baru saja menikah 1 April lalu sangat memperhatikan masa depan, termasuk masa depan pendidikan bagi anak – anaknya kelak.

“Begitu ijab kabul selesai, langsung saya mengambil polis ansuransi pendidikan,” ujar wanita kelahiran 25 Maret 1982 itu dengan setengah bergurau. Meskipun belum hamil, persiapan Devie Rahmawati patut diacungi jempol. Ia bahkan ikut dua asuransi pendidikan dengan jangka waktu 10 tahun. Devie merasa, pendidikan anak adalah hal yang sangat penting dan harus disiapkan sejak dini. “Agar masa depan anak – anak saya terjamin” tandas sosok yang hobi membaca tersebut. (AR)


Investor * Edisi 148* 27 Juni 2006



Technorati Profile

July 2006 August 2006 October 2006 Link