Monday, August 14, 2006

Buku Media Monitoring & Analisa

1-31 Agustus 2005

Penyelamat Devisa Negara

Artajasa bertekad menjadikan layanan perbankan yang efisien. Tak hanya mengembangkan di tanah air, tapi juga di kawasan Asia. Hasil putra banga.

Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Kiasan itu sepertinya sangat cocok disematkan kepada para Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Memang tragis sering kali tak bisa dipisahkan dari mereka. Mendapat perlakukan tak senonoh dari majikan, itu hal biasa. Namun, yang tragis, perlakuan buruk pun mereka dapatkan manakala pulang ke tanah air.

Sudah jadi rahasia umum, para TKI kita kerap kali diperas ketika sampai dibandara Soekarno – Hatta. Mereka hanya bisa gigit jari ketika uang hasil jerih payah mereka digondol penipu dan penodong di bandara. Itu lantaran, umumnya mereka membawa upahnya dalam bentuk tunai. Padahal, kejadian itu mestinya tidak terjadi, jika para TKI itu memanfaatkan teknologi ATM Bersama, layanan elektronis yang dirintis oleh PT Artajasa Pembayaran Elektronis (Artajasa).

Bekerja sama dengan Malaysian Electronic Payment (MEPS-Malaysia). Artajasa meluncurkan fitur yang dinamai interkoneksi regional, awal tahun ini. Melalui fitur ini, memungkinkan nasabah dari bank yang terintegrasi dengan ATM Bersama dari Indonesia dapat menarik uang tunai di lebih 4.500 terminal ATM anggota Bancard di Malaysia. Begitu sebaiknya Nasabah pun tak perlu lagi membawa cash dalam jumlah besar. Fasilitas ini bisa dimanfaatkan wisatawan dari kedua negara untuk menarik uang tunai. Turis dari Indonesia, misalnya tak perlu repot menukar uang ringgit dari Tanah Air untuk bermacam keperluan di Malaysia. Cukup mencari terminal ATM berlogo ATM Bersama, lembar ringgit pun langsung bisa digenggam. Ke depan, dengan fitur transfer antar bank melalui bank ATM maka para TKI pun tak perlu bersusah payah untuk membawa cash dari penghasilannya ke tanah air.

Fitur ini merupakan salah satu wujud komitmen Artajasa untuk senantiasa menjadi penyedia layanan elektronis terdepan tanah air. Menurut Arya Damar. Direktur Utama PT Artajasa. Ini merupakan langkah awal dalam mengembangkan jaringan dan infrastruktur di kawasan Asia. Menghasilkan layanan yang memberi kemudahan dan kenyamanan bagi masyarakat, merupakan semangat yang senantiasa melekat pada segenap karyawan PT Artajasa. “Dengan kerja keras.

Besar Kecil Meraup Untung

Kesuksesan PT Artajasa Pembayaran Elektronis (Artajasa) tak bisa dilepaskan dari peran Arya Damar, sang Direktur Utama. Melalui tangan dinginnnyalah, Artajasa menjadi salah satu perusahaan penyedia layanan transaksi elektronis terdepan saat ini. Produknya yang berupa layanan ATM Bersama menjadi Shared ATM Network local terbesar di Indonesia.

Artajasa pun senantiasa melahirkan berbagai terobosan seperti online settlement, transfer beda bank, hingga fitur interkoneksi regional. Semenjak kepemimpinannya. Bahkan saat ini Arya sedang mengembangkan fitur Payment Bersama. Sebagai perusahaan non-bank, Artajasa selayaknya menjadi lembaga kepercayaan nasabah.

Arya mengawali karier profesionalnya di PT Indosat selepas lulus dari Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung tahun 1986. Setelah dua tahun di Indosat ia lantas mendapat tugas di PT Aplikanusa Lintasarta anak perusahaan Indosat, hingga memegang posisi General Manager. Tatkala Artajasa berdiri tahun 2000 ia langsung dipercaya sebagai Direktur Utama.

Untuk mengungkap strategi dan bagaimana langkah Artajasa dalam menjalankan bisnisnya, berikut petikan wawancara dengan penikmat musik jazz dan klasik, yang mengaku masih menyimpan sejumlah ambisi untuk membesarkan Artajasa.

Dalam segi bisnis, apa sebenarnya yang dilakukan Artajasa ?

Intinya kita bercita-cita memberikan efisiensi kepada mitra dan kemudahan bagi masyarakat dalam melakukan transaksi secara elektronis. Jadi kita coba membuat proses itu menjadi mudah. Kita mulai dari perbankan dengan program ATM Bersama.

Dulu ketika ATM hanya bisa digunakan oleh bank penerbit yang bersangkutan muncul pertanyaan kenapa tidak digabung saja. Karena ATM bukan lagi masalah marketing tools. Bank-bank kecil yang jumlah ATM-nya sedikit tentu sulit untuk mengejar. Akhirnya kita bersama-sama jadi satu, yang tidak punya ATM bisa menggunakan ATM yang lain. Sementara yang ATM-nya banyak akan mendapat keuntungan. Akhirnya tercipta efisiensi.

Selain itu, apa lagi ?

Efisiensi yang kedua adalah untuk beragam pembayaran (payment). Saat ini nasabah juga butuh ATM untuk membayar segala tagihan. Nah, dengan begitu nasabah sebuah sebuah bank bisa bayar tagihan apapun di mana saja dan bisa melalui ATM apa saja. Masing-masing bank tidak perlu berhubungan dengan billing provider, multifinance, pajak dan segala macam. Artajasalah yang menyelesaikan semuanya. Jadi efisiensi yang dicapai. Sementara kemudahan bagi nasabah ialah bisa membayar semua tagihan.

Sejauh mana pihak perbankan menyambut produk-produk Artajasa?

Saat ini kita baru punya komunitas 52 bank anggota ATM Bersama dengan jumlah ATM mencapai lebih dari 6500. Mulai tahun lalu, kita kembangkan tak hanya untuk cek saldo dan tarik tunai saja, tapi juga bisa untuk transfer. Tadinya ATM hanya buat tunai saja. Kita lembaga pertama di Indonesia, mungkin di dunia pun kita nomor dua setelah Afrika Selatan, melakukan transfer antar bank melalui ATM.

Mungkin kalau diluar negeri tidak terlalu penting, sebab disana cukup datang ke bank bila ingin transfer. Di sini, karena sudah banyak bank yang dapat melakukan transfer antar bank, kami pun membuat inovasi model transfer. Biasanya kita transfer antar sesama rekening satu bank. Sekarang kami menciptakan system transfer bank A dengan bank B. Bahkan bisa there partied.

Apa dasarnya sehingga Artajasa tertarik melakukan terobosan ini ?

Yang namanya transfer itu dilakukan kapan saja, bisa tengah malam, bahkan hari libur pada saat bank tutup. Nah, orang tua yang anaknya di luar kota dan memiliki rekening bank yang berbeda misalnya, bisa melakukan transfer dan detik itu juga diterima, tidak harus menunggu.

Terobosan lain?

Kita telah melakukan kerjasama dengan Malaysia Electronik Payment System Malaysia dengan meluncurkan fitur interkoneksi regional. Saat ini baru saling mengambil uang saja, belum bisa transfer antar ATM. Kita juga ada rencana untuk kami pasti bisa,”Kata Arya.

Mencapai tujuan tadi, memang banyak kendala yang mesti dihadapi. Toh, hal itu tak pernah menyurutkan semangat Artajasa untuk menganggapnya. Hal itu terbukti dengan peran penting Artajasa dalam menghasilkan berbagai layanan guna membantu masyarakat melakukan transaksi eletronik yang lebih efisien dan simple. Jenis layanan baru pun terus muncul.

Salah satunya, ya, keberadaan layanan ATM Bersama tadi. Kehadirannya memberi suatu lompatan cukup penting bagi industri perbankan. Keberadaan ATM Bersama ini, tidak saja menguntungkan bank-bank kecil dengan kepemilikan terminal ATM terbatas, tapi juga memberi nilai tambah pada bank papan menengah dan atas yang berkecukupan dalam soal jumlah terminal ATM.

Alih-alih membangun jaringan sendiri yang sangat mahal, integrasi bank-bank ke dalam jaringan ATM Bersama, makin menyejajarkan citranya dengan bank-bank besar sebagai bank yang berjaringan luas dan memiliki teknologi advanced. “Dan manfaat efisiensinya pun sangat terasa,” Ujar Arya.

Tapi cukup dengan bergabung ke dalam jaringan ATM Bersama, bank tak perlu lagi jor-joran berinvestasi di ATM. Dengan bergabung sebagai anggota ATM Bersama, satu bank akan secara otomatis seakan memiliki 6.500 terminal dari sekitar 12.000 ATM yang hadir di seluruh tanah air.

Nasabah pun diuntungkan. Hanya dengan memiliki salah satu kartu ATM dari salah dari lima puluh dua bank anggota ATM Bersama bisa langsung melakukan transaksi tarik tunai, cek saldo dan ganti PIN, diseluruh jaringan ATM berlogo ATM Bersama. Artajasa bak penyelamat, lantaran sadar tidak sadar sebagian nasabah pemilik ATM Bersama dalam kesehariannya memang terbiasa dibantu dalam transaksi perbankan.

Bayangkan saja, ada banyak yang harus dikorbankan, seperti waktu yang terbuang untuk bolak-balik, sekedar mencari terminal ATM yang sama dengan kartu ATM dari bank penerbit yang dimilikinya. Hanya dengan memiliki rekening dari bank penerbit yang tergabung dalam jaringan ATM Bersama, ia pun tak repot lagi.

Keberhasilan pengembangan jaringan ATM Bersama ini telah membuktikan perlunya sebuah efisiensi. Setiap bank pasti berupaya agar biaya investasi dalam pengadaan jaringan bisa ditekan seminimal mungkin, guna menghasilkan margin keuntungan yan lebih besar. Jika bank ingin menambah terminal ATM sendiri, penempatannya tak perlu dilokasi yang sudah tersedia terminal ATM Bersama.

Dengan menghadirkan layanan Interbank Fund Transfer atau yang lebih dikenal dengan transfer beda bank, nasabah bank anggota dimungkinkan untuk mentransfer ke rekening bank lain melalui terminal ATM sesama anggota ATM Bersama secara real time-online.

Bahkan transfer dapat dilakukan secara there partied. “Kartu ATM Bank A. misalnya digunakan di terminal Bank B untuk mentransfer dana ke Bak C, “ujar Arya. Saat ini 33 dari anggota ATM Bersama telah memanfaatkan fitur ini.

Sejatinya, ketika layanan ATM Bersama diluncurkan 10 April, 15 tahun silam oleh – ketika itu – PT Lintasarta, jumlah anggota tak sebanyak saat ini. Namun, setelah binis shared ATM ini diserahkan dari lintasarta pada Artajasa tahun 2002, jumlah anggota bank penerbit makin bertambah. Peningkatan jumlah ini berdampak langsung pada jumlah dan frekuensi transaksi yang naik tajam. “Saat ini rata-rata jumlah transaksinya 1,2 juta hingga 13 juta transaksi per bulan.”Kata Arya bangga.

Prestasi itu cukup yang menggembirakan. Maklum, tahun-tahun sebelumnya, transaksi rata-rata per bulan hanya bisa tembus angka 100.000. Dengan komitmen selalu meningkatkan pelayanan, selain ATM Bersama. Artajasa juga menyediakan online payment bagi industri penerbit tagihan (billing provider) seperti jasa telekomunikasi, seluler, listrik, juga penerbit kartu kredit.

System tersebut dikembangkan dengan puluhan institusi bank dan non-bank yang berfungsi sebagai pengumpul pembayaran tagihan. Bahkan, dalam soal frekuensi, transaksi online payment mengungguli transaksu ATM. Lewat Artajasa pula, seluruh terminal ATM milik bank-bank pemerintah yang tergabung dalam Himpunan Bank-bank Negara (HIMBARA), dihubungkan dalam satu jaringan dengan nama LINK.

Yang membanggakan, dengan dukungan system, infrastruktur dan sumber daya manusia professional yang semuanya putra bangsa. Artajasa selalu berupaya meningkatkan kepercayaan pasar. Caranya, dengan terus mengembangkan produk dan layanan terdepan yang memberi kemudahan pada para pelaku bisnis partner, sebutan khusus Artajasa untuk klien dan pelanggannya.

Meskipun jasa layanan yang dihasilkan sudah dinikmati jutaan orang, nama Artajasa justru tak banyak dikenal. Toh, bagi Arya, hal ini bukanlah soal.”Biarlah masyarakat lebih mengenal ATM Bersama disbanding Artajasanya,” kata lulusan Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung. (ITB) ini dengan senyum lebar.

Payment bersama antara 20-an anggota online payment di luar anggota ATM Bersama, di semua anggota ATM Bersama bisa melakukan pembayaran apapun, meski bank itu tdiak punya perjanjian dengan billing provider.

Mengapa tidak semua bank tertarik bergabung dengan ATM Bersama?

Berdasarkan survey terakhir, Cuma 60 bank yang punya dan berencana punya ATM. Enam puluh sisanya mungkin corporate dan bank asing. Jadi menurut hitungan, target kita sudah hampir 90%. Kita sendiri sudah tidak terlalu mengejar jumlah banknya. Target kami saat ini adalah meningkatkan kemudahan transaksi. Mungkin masyarakat tidak perlu tahu Artajasa, cukup tahun ATM Bersama. Memang, ATM Bersama sendiri diakui masih belum memasyarakat. Karena usaha ini baru tumbuh. Suatu saat kita pasti bisa.

Seberapa efisien bagi bank jika ikut bergabung dengan ATM Bersama ?

Sederhananya begini. Sebuah bank butuh sekitar 120 – 150 juta per tahun untuk biaya operasional satu ATM. Jadi andai bank punya 20 ATM, dia harus mengeluarkan biaya operasional hampir Rp 3 milyar lebih. Itu baru 20 ATM. Belum lagi biaya satu perangkat ATM yang harganya mencapai US$ 15.000 hingga US$ 20.000. Nah, bank kecil yang hanya punya 10 ATM misalnya, bisa memiliki 6500 ATM dengan bergabung di ATM Bersama. Untuk bank-bank yang memiliki banyak ATM, ketika dipakai oleh pemilik kartu ATM bank lain, mereka dapat fee. Yang tadinya ATM hanya cost, sekarang justru menghasilkan profit.

Adakah kendala yang dihadapi?

Saya melihat tidak ada kendala sampai saat ini. Karena selama ini yang kita berikan kepada mereka adalah pelayanan dan kemudahan untuk nasabah bank-bank anggota.

Semua produk Artajasa dibuat oleh putra bangsa. Ada upaya khusus untuk mempersiapkannya?

Segala yang kita kerjakan terbukti bisa berhasil setelah dijalankan. Dan masih banyak yang harus kita lakukan ke depan. Yakinlah, bagaimanapun juga kalau ada kemauan pasti bisa. Potensi SDM kita tidak kalah, hanya masalah kemauan saja.

Apa target ke depannya?

Saya ingin Artajasa ada ditengah. Kita juga ingin merambah sampai ke outlet-outlet tempat orang beli karcis dan tiket. Nah, kita jadi electronic channel untuk segala macam provider. Nanti, orang cukup datang di satu tempat untuk membayar semua tagihannya.

Diluar negeri, seberapa banyak perusahaan seperti Artajasa ?

Cukup banyak. Bahkan di Malaysia dan Singapura, mereka sampai mengurusi tiket masuk jalan tol.

Peran Artajasa membuat efisien dalam konteks nasional. Bagaimana sikap Pemerintah ?

Buat saya bukan soal pengakuan terhadap yang sudah kita lakukan, tetapi hasil

apa yang sudah kita berikan kepada industri terkait, khususnya financial institution.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home

July 2006 August 2006 October 2006 Link