Tuesday, August 01, 2006

Jangan Jadi Kacamata Kuda


Devie Rahmawati atau lebih familiar disapa mbak Devie, yang kerap mengontak wartawan dalam setiap event yang diadakan oleh PT Artajasa Elektronis, belakangan sering kepergok bolak – balik ke Bank Indonesia (BI). Apa terkait dengan lemahnya rupiah? Tidak.

Sebagai Corporate Cummunication, dara cantik kelahiran Jakarta 25 Maret 1982 ini memiliki tugas khusus terkait dengan dipercayanya PT Artajasa Pembayaran Elektronis dalam mengembangkan Sistem Kliring Nasional (SKN). “Oh ya kebetulan Artajasa dipercaya BI untuk ngembangin Sistem Kliring Nasional. Karena di Bank Indonesia nanti ada lauching resmi SKN, yang dihadiri Deputi Gubenur,” jelasnya sebelum launcing SKN tersebut.

Menjadi Public Relation (PR) bagi maniak baca dan traveling ini benar – benar dijiwainya. Itu terlihat bagaimana gaya dan sikapnya dalam membina hubungan dengan insan pers, sehingga setiap perusahaannya menyelenggarakan even, pasti dibanjiri oleh awak pers.

Wanita lajang yang kenyang dengan pengalaman organisasi kehumasan ini menjelaskan bahwa, menjadi seorang PR berarti harus mampu menjadi SOLUSI. “Mungkin bagi banyak kalangan di negeri ini, keberadaan PR hanya dibutuhkan ketika sebuah KRISIS muncul. PR tidak lebih hanya sebagai TAMENG” tuturnya.

Menjadi solusi banginya, tidak berarti harus ada problem. Solusi yang dimaksud ialah, dalam keseluruhan proses bisnis atau usaha, PR pun akan hadir dengan beragam ide yang konstruktif baik ke dalam maupun keluar. Jadi seorang PR tidak boleh menjadi kacamata kuda, yang hanya menguasai bidangnya, tapi juga mampu memberikan konstribusi bagi perusahaan dan masyarakat luas dalam banyak aspek. “Itu yang membuat seorang PR sejati akan tampil sebagai sosok yang dinamis dan smart,” jelasnya lagi.

Pengalaman sebagai PR manager pada Dialog kandidat Presiden dan Wakil Presiden 2004 yang lalu, merupakan salah satu tugas yang luar biasa bagi seorang Devie. “Saat itu saya harus berdialog dengan banyak orang, dari semua kalangan, mulai tukang sapu. Paspampres, para pendemo sampai Presiden (Megawati saat itu) dan calon presiden (SBY). Berhubungan langsung dengan dengan mereka, sangat memperkaya pengalaman emosi dan kompentesi saya sebagai seorang PR,” kenangnya.

Business Review Edisi 07 * TH IV * Oktober 2005

0 Comments:

Post a Comment

<< Home

July 2006 August 2006 October 2006 Link