Tuesday, August 01, 2006

Penanam Jati dari “Balik Semak”


Buat Devie Rahmawati, Balsem bukan lah obat gosok penghilang gatal maupun rasa sakit yang selama ini banyak dikenal orang. Tetapi Balsem bagi perempuan kelahiran 25 Maret 1982 itu merupakan kumpulan penjaja makanan yang terletak di balik semak (Balsem) di belakang kampus FISIP Depok Jawa Barat. “Balsem adalah bagian dari hidup saya selama hamper lima tahun saya kuliah,” kenang Devie ketika ditemui di sebuah pusat perbelanjaan di Blok M Jakarta Selatan, akhir Mei 2006.

Bagi Devie-begitu ia biasa dipanggil-Balsem adalah tempatnya berkumpul bersama teman – teman kuliah. “Mulai dari ngerjain tugas kuliah, bolos, hingga mengerjakan kerjaan yang tidak tuntas dikerjakannya di kantor,” kenangnya. Mengerjakan kerjaan yang belum tuntas dikerjakan di kantor kerap kali dilakukan di balsem amat mungkin dilakukan mengingat perempuan berbintang aries ini, telah memulai kerasnya dunia kerja ketika masih menggeluti dunia kuliah.

Mulai dari menjadi PR & Event Manager untuk Media Center di Komisi Pemilihan Umum, lalu menjadi seorang Junior Consultant di Ida Sudoyo dan Associates hingga menjadi Corporate Cummunications Specialist di sebuah perusahaan IT pengelola ATM bersama, PT Artajasa Pembayaran Elektornis. Semua itu digelutinya sambil kuliah.

Berbekal pengalaman itu pulalah, seusai menuntaskan kuliahnya di Jurusan Komunikasi FISIP UI, Devie kembali mempertahankan Balsem sebagai tempatnya mencari inspirasi. Balsem kini bakal menjadi tempatnya mencari solusi atas peliknya tugas bekerja sebagai Public Relation FISIP UI.

Bagi Devie dalam bekerja di tempatnya sekarang ia harus memiliki kekuatan fisik untuk mencapai tujuan akhir, kemampuan menyelesaikan masalah agar tidak gagal, serta ketenangan dalam proses pengambilan keputusana yang penuh resiko. “Ketiga hal itu bila kita miliki dengan sempurna akan membuat kita begitu cinta pada pekerjaannya. Dan itu semua telah saya coba untuk miliki,” lanjutnya sambil tersenyum.

Ketiga filosofi itu ternyata dipraktekkan dalam merintis karirnya hingga saat ini. Sebagai seorang manager, perempuan yang suka menonton film itu menggunakan perinsip H2C dalam memimpin tim yang dimilikinya.” H2C yang saya kenal ialah Happiness, Helping Others, dan Choices,” terangnya mantap. Buat finalis pemilihan abang none Jakarta Kepulauan Seribu 2002-2003 itu, H2C begitu melekat dalam aktifitasnya bekerja.

“Ketiga kata ini menjadi seperti agama buat saya ketika bekerja. Saya berusaha mensyiarkan ketiganya kepada setiap orang yang saya kenal khususnya kepada setiap orang yang bekerjasama dengan saya seperti staf atau partner saya dalam bekerja,” ungkapnya.

Dengan happiness, Devie ingin setiap pekerjaan atau tanggung jawab yang diemban dapat dijalani dengan suka cita. “Bila sebuah pekerjaan sudah cukup merepotkan buat apa lagi kita harus menambah beban dengan bermuka masam,” ujar finalis Prolene Look Good and Feel Good Award 2003 seraya tersenyum.

Konsep Helping Others selalu diterapkan dalam komunitas kerjanya bila ada salah satu staff yang membutuhkan bantuan. “Saya atau staff yang lainnya akan sesegera mungkin mendampingi,” tambahnya. Sedangkan Choises, menjadi pil terakhir yang biasa dicekoki kepada ajjarannya. “Kita selalu punya pilihan dalam semua hal. Pilihan untuk datang tepat waktu atau tidak. Pilihan untuk mendapatkan bonus atau tidak. Pilihan untuk memiliki relasi banyak atau tidak. Pilihan untuk tetap bekerja atau tidak,” paparnya.

Masih menurut Devie, ketika seseorang sadar memiliki pilihan untuk melakukan dan menjadi yang terbaik, maka orang itu akan berlomba memilihmelakukan sesuatu yang bisa mendatangkan kebaikan bagi mereka. Untuk itu konsep H2C baginya diterapkan dengan sungguh – sungguh.

Si pencinta buku, musik dan jalan – jalan ini ternyata juga aktif di LSM Lingkunagn Hidup (SEDAUN). “Belum banyakn sih yang sudah aku lakukan,” akunya. Namun Devie sudah menanam sebanyak 7000 Pohon Jati di berbagai kota seperti Semarang, Jakarta, Bandung dan kota – kota lainnya. “Aku sangat concern dengan upaya menyebarkan virus menanam ke semua lapisan masyarakat,” tutup Devie.

Human Capital * Nomor 27* Juni 2006

0 Comments:

Post a Comment

<< Home

July 2006 August 2006 October 2006 Link